DAERAH

Puluhan Petani Aksi Unjuk Rasa di Gedung DPRD Kota Metro

Lampungraya.com — Puluhan Petani Aksi Unjuk Rasa di Gedung DPRD Kota Metro yang tergabung di Aliansi Petani Menggugat Metro Selatan mengadakan aksi unjuk rasa didepan halaman Gedung DPRD Kota Metro setempat, pada Rabu 22 April 2026.

‎‎Aksi ini merupakan luapan emosi atas rentetan gagal panen yang mereka alami akibat banjir yang dinilai tidak pernah ditangani secara serius oleh pemerintah.

‎‎Sejak pagi, massa berdatangan membawa spanduk bernada protes. Wajah-wajah lelah namun penuh amarah tampak jelas. Mereka datang bukan sekadar untuk didengar, tetapi untuk menagih tanggung jawab. 

‎‎Demonstrasi para petani diterima langsung oleh Ketua DPRD Kota Metro, Ria Hartini, didampingi seluruh komisi serta Kepala DKP3 beserta jajarannya. 

‎‎Para petani mengaku mengalami kerugian besar setelah lahan pertanian mereka kembali terendam banjir di Wilayah Kecamatan Metro Selatan.

‎‎Kawasan banjir itu seperti di Kelurahan Rejomulyo dan Kelurahan Sumbersari disebut sebagai titik terparah. Air kerap menggenang selama berhari-hari hingga merusak tanaman padi yang sudah siap panen. 

‎‎Kondisi tersebut membuat petani terjebak dalam lingkaran kerugian: modal habis, hasil panen nihil, sementara bantuan yang dijanjikan belum mereka rasakan secara nyata dari Pemerintah Kota Metro.

‎‎Salah satu perwakilan petani dari Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Metro

‎Selatan, Heri mengatakan bahwa penyebab gagal panen akibat luapan kondisi banjir sungai way sekampung yang mengenang area persawahan.

‎‎Menurutnya, Kondisi Banjir yang selama ini meredam sawah milik petani di Metro Selatan dipicu dari Bendungan Margatiga.

‎Aliran Bendungan Margatiga ini berpengaruh besar bagi para petani baik untuk masa tanam maupun saat panen.

‎‎Sementara itu, Kuasa Hukum Petani, Tommy Gunawan pihaknya membawa tiga tuntutan utama dalam aspirasi tersebut yakni.

‎‎Pertama, mendesak Pemerintah Kota Metro untuk segera menghadirkan solusi permanen atas persoalan banjir yang terus berulang dan menghancurkan lahan pertanian.

‎‎Kedua, menuntut pertanggungjawaban instansi terkait atas dampak banjir yang dinilai sebagai bentuk kegagalan penanganan infrastruktur dan tata kelola lingkungan. Para petani menilai ada kelalaian yang harus dijawab secara terbuka.

‎‎Ketiga, meminta jaminan perlindungan serta keberlangsungan hidup petani di Kota Metro yang kini berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian hasil panen. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *