DAERAH

Warga Geger Awan Mirip Pusaran Di gunung Tanggamus

Lampung raya. Com– Warga Kabupaten Tanggamus dihebohkan dengan kemunculan awan berbentuk pusaran di kawasan Gunung Tanggamus, Kecamatan Kota Agung, Rabu (17/12/2025). Fenomena alam tersebut menarik perhatian masyarakat, karena bentuknya yang tidak biasa dan sempat menimbulkan beragam spekulasi.

Menanggapi hal tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Lampung, memberikan penjelasan bahwa fenomena yang terlihat dalam video tersebut merupakan awan lenticularis.

Koordinator Data dan Informasi BMKG Radin Inten II Lampung, Rudi Hariyanto, menjelaskan awan lenticularis adalah jenis awan berbentuk lensa atau menyerupai piring yang terbentuk akibat dinamika angin di atmosfer, khususnya saat aliran udara yang kuat melewati wilayah pegunungan atau perbukitan.

“Awan ini tampak seolah-olah diam di satu tempat, meskipun pada lapisan atmosfer tempat awan tersebut berada terjadi hembusan angin yang cukup kencang,” ujar Rudi, Sabtu(20/12/2025).

Ia menegaskan, secara meteorologis awan lenticularis bukan merupakan awan badai dan tidak berkaitan langsung dengan kejadian hujan lebat maupun petir.

Pembentukan awan ini dipicu oleh kombinasi angin kencang di lapisan menengah hingga atas atmosfer, kondisi topografi pegunungan, serta terbentuknya gelombang orografis.

“Ketika udara lembap dipaksa naik mengikuti gelombang tersebut, suhu udara menurun sehingga uap air mengembun dan membentuk awan pada puncak gelombang,” jelasnya.

Proses tersebut berlangsung secara terus-menerus, sehingga awan lenticularis terlihat stasioner meskipun aliran udara di sekitarnya bergerak cepat. Rudi menambahkan, fenomena ini tidak memiliki periode kemunculan yang tetap dan dapat terjadi kapan saja, terutama saat terjadi penguatan angin di lapisan atas atmosfer.

“Di Indonesia, awan lenticularis lebih sering muncul pada masa peralihan musim atau saat dinamika atmosfer sedang aktif, serta umumnya teramati di sekitar wilayah pegunungan atau perbukitan,” ujarnya.
Lama kemunculan awan lenticularis bervariasi, mulai dari beberapa puluh menit hingga beberapa jam. Dari sisi dampak, awan ini tidak menimbulkan hujan, badai, maupun kerusakan langsung di permukaan.

Namun demikian, keberadaan awan lenticularis dapat menjadi indikasi adanya angin kencang dan turbulensi di lapisan atas atmosfer. Kondisi tersebut di permukaan dapat dirasakan sebagai hembusan angin yang lebih kuat atau tidak stabil, terutama di daerah pegunungan.

“Terkait dampak terhadap permukiman, tidak terdapat rumah yang terdampak secara langsung akibat kemunculan awan lenticularis, karena awan ini tidak menyebabkan kerusakan fisik seperti banjir, longsor, atau angin puting beliung,” tegas Rudi.

Meski tidak berbahaya, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi angin kencang, dengan mengamankan bangunan ringan serta membatasi aktivitas luar ruang yang berisiko. Masyarakat juga disarankan untuk terus memantau dan mengikuti informasi cuaca resmi dari BMKG sebagai langkah antisipasi.(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *