LAMPUNGRAYA.COM – Setiap kali air muara Way Pemerih pasang, warga Pekon Wayharu, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, harus menyiapkan nyali. Tak ada jembatan penghubung, mereka hanya bisa mengandalkan rakit kayu, atau nekat berenang melawan derasnya arus demi bisa menyeberang.
Aksi nekat warga Wayharu itu viral di media sosial. Dalam video yang beredar, tampak pria dan perempuan, bahkan anak-anak, berjibaku melawan arus muara yang lebar dan dalam. Sementara di tepi sungai, warga lain menunggu dengan cemas, berharap semua bisa selamat sampai seberang.
“Kalau air sedang tinggi, kami tidak berani lewat. Tapi kalau terpaksa, ya harus nekat. Tidak ada jalan lain,” kata Agus Sanjaya, warga setempat, dengan nada pasrah, awal pekan Oktober 2025.
Sudah enam bulan berlalu sejak jembatan Way Pemerih ambruk. Padahal, jembatan itu merupakan akses vital yang menghubungkan dua pekon, Wayheni dan Wayharu. Sejak putus, warga empat desa enclave di kawasan itu semakin terisolasi.
Kini, untuk ke pasar, sekolah, atau fasilitas kesehatan, warga harus menunggu air surut. Saat malam tiba atau hujan turun, tak ada pilihan lain selain menunda perjalanan.
“Kalau muara pasang, kami sering bermalam di pinggir sungai. Tidak mungkin menyeberang, arusnya terlalu kuat,” tutur Agus.
Bagi warga Wayharu, jembatan bukan sekadar bangunan fisik, tapi urat nadi kehidupan. Tanpanya, perekonomian tersendat. Hasil panen sulit keluar, distribusi bahan pokok tersendat, dan aktivitas warga terhenti.
“Kami cuma ingin jembatan ini dibangun lagi. Itu saja. Supaya hidup kami bisa normal,” harap Agus lirih.
Di sisi lain, pemerintah daerah menyadari kondisi tersebut. Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pesisir Barat, Mesrawan, meminta masyarakat bersabar. Ia menyebut, pembangunan jembatan Way Pemerih sudah masuk dalam rencana anggaran tahun ini, namun pelaksanaannya baru bisa dilakukan pada tahun 2026 mendatang karena kendala teknis.
“Kami memahami kesulitan masyarakat di wilayah enclave Wayharu. Tahun depan, pembangunan jembatan sudah menjadi prioritas,” kata Mesrawan saat ditemui di ruang kerjanya.
Wayharu bukan sekadar desa di ujung Pesisir Barat. Wilayah ini dikelilingi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, tanpa akses jalan darat yang memadai. Sinyal telepon pun kerap hilang. Dalam keterasingan itu, warga bertahan, berharap janji pembangunan bukan sekadar kata-kata.
Sementara mereka menunggu, rakit sederhana dan keberanian tetap menjadi satu-satunya “jembatan” antara harapan dan kenyataan. (yosan)
